PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK

MELALUI PEMBERDAYAAN SUMBER BELAJAR

PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA*

Hari Wibowo**


* Artikel ini telah dimuat Jurnal Teknologi Pendidikan Pasca UNJ

* *Widyaiswara bahasa Indonesia PPPPTK Bahasa, Jakarta. e-mail: mashariwibowo@yahoo.com & mashariwibowo@gmail.com.

ABSTRACT

Learning resources which are not fully explored in subject of Bahasa Indonesia, particularly on the listening skill, result in inadequate students learning process and quality.  Empowerment of learning resources in SMAN 109, Jakarta is the reason behind this research. Generally, this research aims to upgrade the students listening skills in the subject of Bahasa Indonesia through empowering learning resources. Overall, the enhancement of students listening skill is indicated by the achievement of learning fulfillment standard of basic listening competence, which is 60%. The listening test for song or poetry lyrics is 74% and the evaluation for writing performance and poetry reading is 89% on the average. These results are gained through the empowerment of significant six learning resources, and is achieved by conducting three cycles.

 

 

Kata kunci: peningkatan, menyimak, sumber belajar, bahasa Indonesia

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari  semua bidang studi (Depdiknas, 2006: 1). Pembelajaran bahasa, khususnya Bahasa Indonesia, dapat membantu peserta didik mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartipasi dalam masyarakat, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatifnya.   

Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dengan baik dan benar,  baik secara lisan maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.

Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikeluarkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan bersastra yang meliputi empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Dari empat kemampuan tersebut, kemampuan menyimak merupakan kemampuan dasar manusia dalam berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan Tompkins dan Hoskisson yang menyatakan bahwa seseorang menggunakan waktu komunikasinya 50% untuk menyimak dan 50% untuk berbicara, membaca, dan menulis (Gail E. Tompkins, dan K. Hoskisson,  1991: 121). Goleman mengatakan  bahwa Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menaksir dari seluruh waktu yang disediakan untuk berkomukasi, 22% digunakan untuk membaca dan menulis, 23%  untuk berbicara, dan 55% untuk menyimak (Goleman, 2001: 224).  Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa waktu menyimak yang digunakan untuk berkomunikasi mendapatkan porsi yang lebih, yakni 50%. Waktu yang digunakan untuk menyimak lebih banyak  bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk berbicara, membaca, dan menulis.

 Kondisi pembelajaran kompetensi menyimak yang terjadi di SMAN 109 cukup memprihatinkan.  Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan angket siswa kelas X, peneliti menemukan beberapa masalah ketidakefektifan pembelajaran menyimak yang disebabkan oleh pemberdayaan yang tidak optimal terhadap enam sumber belajar atau komponen sistem pembelajarannya. Pertama, materi menyimak persentasenya tidak proporsional yakni kurang dari 10%, bahkan guru cenderung meniadakan pelajaran menyimak dengan alasan merepotkan ketika harus menyediakan medianya, harus menyiapkan software-nya yang tidak ditemukan bersamaan dengan buku paketnya, dan harus pindah ke ruangan yang kondusif, seperti ruang audiovisual dan laboratorium bahasa. Kedua, guru tidak menyiapkan materi yang menarik, cenderung monoton, dan terlalu dominan atau sering memposisikan diri sebagai pusat pembelajaran. Oleh karena itu, siswa menjadi bosan dan tidak bergairah belajar. Ketiga, bahan dan media pembelajaran yang digunakan tidak variatif, karena hanya sebatas buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia. Keempat, peralatan yang dimiliki sekolah masih belum diberdayakan, misalnya tape, VCD player, in focus / LCD, ruang audiovisual, dan laboratorium bahasa. Kelima, metode atau teknik pembelajaran yang diterapkan masih konvensional yang cenderung membosankan dan kurang menarik siswa belajar bagaimana seharusnya belajar.  Keenam, latar atau lingkungan di sekitar sekolah belum dijadikan sebagai sumber belajar yang menunjang pembelajaran, padahal banyak objek atau tempat yang kondusif untuk bisa dieksploitasi.  

Beberapa sumber belajar atau komponen sistem pembelajaran yang kurang diberdayakan tersebut dapat mengakibatkan siswa menjadi sulit dalam mengikuti pelajaran, bahkan besar sekali kemungkinannya gagal. Artinya bahwa siswa yang gagal dalam kemampuan menyimaknya, tentu gagal pula dalam tiga kemampuan berbahasa yang lain. Hal ini juga berdampak buruk terhadap mata pelajaran lain, selain Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, perlu pemecahan masalah atau tahu bagaimana caranya agar siswa dapat menangkap dan memahami dengan benar informasi atau materi yang disampaikan oleh guru atau siswa lainnya. 

Pemahaman suatu pengetahuan tidaklah dengan serta merta langsung dapat diambil dan diingat dengan baik oleh siswa. Namun, siswa harus mengkonstruksi pengetahuannya terlebih dahulu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Hal ini seperti pada pendekatan konstruktivisme,  yang mengatakan bahwa pengetahuan dibangun manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak seketika.  Siswa perlu membangun pengetahuan di benaknya dengan cara memadukan konsep dengan pengalaman nyata, memecahkan masalah, menemukan sesuatu, dan didorong untuk menerapkannya dalam situasi lain.

Filosofi pendidikan mutakhir adalah konstruktivisme yang berpandangan bahwa semua siswa  memiliki pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa alam sekitarnya. Pendidikan harus dimulai dari suatu hal yang telah diketahui oleh siswa.

Siswa yang telah berpengetahuan ini perlu ditingkatkan kemampuan menyimaknya sehingga dapat mengikuti materi membaca, berbicara, dan menulis dengan baik. Dalam rangka meningkatkan kemampuan menyimak siswa secara maksimal diperlukan pendekatan atau model pembelajaran yang tepat. Siswa menjadi senang, bergairah, dan bersemangat dalam belajar, karena materi pelajaran yang disampaikan menarik dan kontekstual; sumber dan media belajarnya bervariatif. Dengan demikian, paradigma guru sebagai pusat pembelajaran sudah seharusnya diubah menjadi siswa sebagai pusat pembelajaran.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian, yaitu “Bagaimana cara meningkatkan kemampuan menyimak  melalui pemberdayaan sumber belajar pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas X (sepuluh)  SMAN 109 Jakarta?”

Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada upaya pemecahan masalah, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyimak melalui pemberdayaan sumber belajar pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas X (sepuluh) SMAN 109 Jakarta.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam memperkaya dan memperluas khazanah literatur ilmiah di bidang ilmu pendidikan khususnya Ilmu Teknologi Pendidikan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara praktis dalam dunia pendidikan di sekolah untuk menemukan sistem belajar yang efektif dan tepat melalui metode konstruktivisme. Juga dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan potensi dan kemampuan siswa dalam menyimak, terutama bagi guru di sekolah agar dapat menggunakan secara optimal dan variatif penggunaan sumber belajar untuk pembelajaran menyimak.

Landasan Teoritis

  1. Definisi  Belajar dan Pembelajaran

Menurut Gagne belajar adalah perubahan kemampuan dan disposisi seseorang yang dapat dipertahankan dalam suatu periode tertentu dan bukan merupakan hasil dari proses pertumbuhan (Gagne, 1977: 3). Seel dan Richey berpendapat bahwa belajar adalah menyangkut adanya perubahan yang relatif permanen pada pengetahuan atau perilaku seseorang karena pengalaman (Seel dan Richey, 1994: 12) Mayer menambahkan bahwa belajar  adalah perubahan secara relatif permanen dalam pengetahuan atau perilaku atau sikap seseorang karena pengalaman (Mayer, 1982: 1040).

Ketiga definisi belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar menginginkan perubahan secara permanen dalam periode tertentu, baik pengetahuan, perilaku, maupun sikap seseorang karena pengalaman, bukan  karena hasil proses pertumbuhan.

Menurut Miarso belajar adalah suatu proses perubahan yang relatif permanen pada tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman yang terkontrol dan tidak terkontrol, dan belajar merupakan proses pemerolehan keterampilan, pengetahuan, kemampuan, dan tingkah laku yang mempengaruhi deskripsi dan diagnosa terhadap peristiwa dan manusia. SELANJUTNYA KLIK DI SINI!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s