KONSEP PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN

KONSEP PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN
MATA PELAJARAN PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP
Hari Wibowo,S.S., M.Pd.
(Artikel ini telah diterbitkan Majalah Review LPMP Kalimantan Barat)
PENGANTAR

Angin perubahan kurikulum 2013 terus berhembus menggantikan kurikulum berbasis kompetensi, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Seringnya terjadi pergantian dan atau perubahan kurikulum pada hakikatnya merupakan reaksi pemerintah akibat terjadinya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi amat cepat sehingga terjadi pergeseran kebutuhan dan tuntutan di masyarakat terhadap dunia pendidikan. Kurikulum 2013 menempatkan penilaian menempati posisi penting. Dalam hal ini penilaian yang tepat mengiringi penerapan kurikulum 2013 dengan pendekatan scientifik adalah penilaian autentik.
Penilaian autentik menekankan pengukuran hasil pembelajaran yang berupa kompetensi peserta didik untuk melakukan sesuatu, doing something, sesuai dengan mata pelajaran dan kompetensi yang dibelajarkan. Tekanan capaian kompetensi bukan pada pengetahuan yang dikuasai peserta didik, melainkan pada kemampuan peserta didik untuk mengamati, menanyakan, mencoba, mengolah, mnyajikan, menalar, dan mencipta. yang merupakan cerminan esensi pengetahuan dan kemampuan yang telah dikuasainya tersebut. Selain itu, pendemonstrasian kompetensi tersebut tidak semata-mata demi pengetahuan itu sendiri, melainkan harus sekaligus mencerminkan kebutuhan nyata dalam kehidupan sehari-hari. (Nurgiyantoro, 2006)
Dalam penilaian autentik peserta didik diukur kompetensinya dengan menampilkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang kesemuanya itu harus terintegrasi. Dalam penilaian autentik peserta didik harus memiliki tiga aspek penilaian (1) sikap, “Mengapa dia tahu?” (2) Pengetahuan, “Dia mengetahui apa?” (3) Keterampilan, “Bagaimana dia tahu?”. Peserta didik dibekali sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terintegrasi sehingga mampu menjadi insan yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif.
Secara umum tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah (SMP dan SMA) adalah capaian kemampuan berkomunikasi lewat saluran keempat kemampuan berbahasa, maka evaluasi yang dilakukan juga haruslah mengukur kemampuan berbahasa itu yang dalam kaitan ini adalah penilaian otentik. Penilaian autentik menekankan penilaian pada kemampuan berunjuk kerja bahasa (kompetensi berbahasa, kompetensi komunikatif) sebagaimana halnya dalam berkomunikasi sehari-hari untuk berbagai keperluan dan bukan sekadar mengungkap pengetahuan bahasa (kompetensi linguistik). Karena penilaian autentik itu sendiri belum “terkenal” dan belum banyak dikenal oleh para guru, dalam arti belum banyak dipergunakan untuk mengukur hasil pembelajaran, ia perlu dikenalkan. Hal itu dimaksudkan agar para guru mampu melaksanakan penilaian model penilaian autentik dengan benar sebagai salah satu asesmen hasil pembelajaran di kelas, khususnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
Untuk itu, pengembangan model penilaian autentik adalah sebuah keharusan demi peningkatan kualitas pembelajaran dan sekaligus memaksimalkan pelaksanaan kurikulum 2013 serta capaian hasil pembelajaran bahasa Indonesia. Namun, untuk memaksimalkan hasil dan kemanfaatannya sebelumnya perlu dilakukan survei secara faktual dan mendalam terhadap kondisi pelaksanaan penilaian yang dilakukan guru dan kemudian baru dikembangkan sebuah model penilaian hasil pembelajaran bahasa sebagaimana fungsinya sebagai sarana berkomunikasi.
Slanjutnya klik di sini!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s