BAGAIMANA SISTEMATIKA PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH (KTI)?

BAGAIMANA SISTEMATIKA PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH (KTI)?
Hari Wibowo,S.S., M.Pd.

Pertanyaan judul artikel ini seringkali muncul di kalangan akademisi, mulai dari pelajar, guru hingga mahasiswa pascasarjana. Memang permasalahan penyusunan karya tulis lmiah (KTI) dan kaidahnya menjadi pelik bila kita tidak andil di dalamnya. Sebagai seorang akademisi, penyusunan KTI kadang menjadi hal yang wajib sebagai prasyarat tertentu. Misalnya, KTI menjadi prasyarat seorang siswa/ mahasiswa dalam menyelesaikan studinya sekolahnya atau kuliahnya. Berikut ini disajikan tulisan singkat sistematika penulisan karya tulis ilmiah, semoga dapat memandu kita..
1. Judul, disertai pernyataan mengenai maksud penulisan KTI (Karya Tulis Ilmiah)
Judul dirumuskan dalam satu kalimat yang ringkas, komuikatif, dan afirmatif. Judul harus mencerminkan dan konsisten dengan ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, subjek penelitian dan metode penelitian.
2. Nama dan kedudukan Tim Pembimbing
Kedudukan Tim Pembimbing ini ditempatkan dalam halaman khusus. Untuk skripsi S1 dan tesis S2 dapat digunakan istilah TIM PEMBIMBING dengan kedudukan sebagai PEMBIMBING PERTAMA, PEMBIMBING KEDUA, dn seterusnya. Sedangkan untuk disertasi S3 digunakan istilah PANITIA DISERTASI dengan kedudukan sebagai PROMOTOR dan KO-PROMOTOR, sera ANGGOTA. Nama Tim Pembimbing atau Panitia Disertasi harus ditulis lengkap dan benar. Begitu juga gelar akademik maupu gelar-gelar lainnya.
3. Pernyataan tentang keaslian KTI
Pernyataan ini menegaskan bahwa karya tulis adalah bear-benar karya siswa/mahasiswa yang bersangkutan dan bukan jiplakan.
4. Kata Pengantar
Kata pengantar berisi uraian yang mengatur para pembaca kepada permasalahan yang diteliti. Dalam kata pengantar dapat pula dikemukakan ucapan terima kasih dan apresiasi mahasiswa kepada pihak-pihak yang telah membantu dlam menyelesaikan karya tulis ilmiahnya. Ucapan terima kasih disampaikan secara singkat, dan sebaiknya tidak merupakan bagian terpisah.
5. Abstrak
Abstrak merupakan uraian sinkat tetapi lengkap yang dimulai dengan judul, permasalahan, pendekatan terhadap masalah, landasan teoritik yang digunakan, hasil temuan dan rekomendasi. Abstrak ini cukup 1 (satu) halaman diketik satu spasi.
Untu tesis dan disetasi, abstrak ditulis dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dan ditempatkan sesudah halaman persetujuan pembimbing.
6. Daftar Isi
Daftar isi merupakan penyajian sistematika isi secara lebih rinci dari skripsi, tesis, atu disertasi. Daftar isi berfungi untuk mempermudah para pembaca mencari judul atau sub judul isi yang ingin dibacanya. Oleh karena itu, judul dan sub judul yang ditulis dalam daftar isi haru langsung ditunjukan nomo halamannya.
Nomor-nomor untuk halaman awal sebelum BAB I digunakan angka Romawi kecil (misalnya i, ii, iv dst) sedangkan dari halaman pertama BAB I sampai dengan halaman terakhir digunakan angka (1, 2, 3, dst).
7. Daftar Tabel
Pada dasarnya, fungsi daftar tabel ini sama dengan daftar isi, yakni menyajikan tabel secara berurutan mulai dari tabel pertama sampai dengan tabel yang terakhir. Secara berurutan daftar tabel ini menyatakan nomor urut tabel (denan dua angka Hindu-Arab) yang masing-maisng menyatakan nomor urut tabel dan nomor urut bab.
Contoh : Tabel I.3, artinya tbel nomor 3 yang ditulis pada Bab I. Setiap nomor urut tabel diberi nomor halaman yang menunjukan pada halaman mana tabel itu terletak. Judu tabel pada daftar tabel ditulis dengan HURUF BESAR untuk setiap huruf awal dari setiap kata, begitu juga di dalam naskah.
8. Daftar Gambar
Daftar gambar berfungsi utk mnyajikan gambar secara berurutan dengan masing-masing disebutkan nomor urut gambar dengan menggunakan dua angka huruf Hindu-Arab seperti pada daftar tabel. Judul gambar ditulis dengan huruf besar untk setiap huruf awal dari setiap kata. Seperti halnya penulisan judul tabel. Setiap judul gambar disertai nomor urut halaman tempat gambar terletak.
9. Daftar Lampiran
Daftar lampiran ini mempunyai fungsi yang sama dengan daftar-daftar yang lain yakni menyajikan lampiran secara berurutan. Dalam daftar lampiran disajikan Nomor Urut Lampiran (dengan satu angka Hindu-Arab), Nama Lampiran, dan Nomor Halaman tempat masing-masig dimana lampiran terletak.
10. Bab I Pendahuluan
Bab I skripsi, tesis, disertasi tentang pendahuluan merupakan bagian awal dari skripsi, tesis, disertasi. Pendahulun ini berisi :
a. Latar Belakang Masalah
Pembahasan dalam latar belakang masalah ini bermaksud membeberkan mengapa masalah yang diteliti ini timbul dan penting dilihat dari segi profesi peneliti, pengembangan ilmu dan kepentingan pembangunan. Yang perlu disajikan dalam latar belakang masalah adalah apa yang membuat peneliiti merasa gelisah dan resah sekiranya masalah tersebut tidak diteliti. Dalam latar belakang masalah sebaiknya diungkapkan gejala-gejala kesenjangan yang terdapat dilapangan sebagai dasar pemikiran untuk memunculkan permasalahan. Ada baiknya kalau dIutarkan kerugian-kerugian apa yanng bakal diderita apabila masalah tersebut dibiarkan tidak diteliti dan keuntungan-keuntungan apa yang iranya bakal diperoleh apabila masalh tersebut diteliti.
b. Rumusan Masalah
Merumuskan masalah merupakan pekerjaan yang sukar bagi setiap peneliti. Hal yang dapat menolong mahasiswa keluar dari kesulitan merumuskan judul dan masalah adalah pengetahuan yng luas dan terpadu mengenai teori-teori dan hasil-hasil para pakar terdahulu dalam bdang-bidang yang terkait dengan maalh yang akan diteliti. Dalam rumusan dan analisis masalah sekaligus juga diidentifikasi variabel-variabel yang dalam penelitian beserta definisi operasionalnya, untuk memperudah, maka rumusan masalah dapat dinyataka dalam bentuk kalimat bertanya setelah didahului uraian tentang masalah penelitian.
c. Tujuan Penelitian/Studi
Rumusan tujuan penelitian/studi ini menyajikan hasil yang ingin dicapai setlah penelitian selesai diakukan. Oleh sebab itu rumusan tujuan ini harus konsisten dengan rumusan masalah dan mencerminkan pula proses penelitian. Rumusan tujuan penelitian tdak boleh sama dengan rumusan maksud penulisan skripsi, tesis, atau disertasi yang ditulis dalam halaman Sampul Luar dan halaman Sampul Dalam.
d. Asumsi
Fungsi asumsi dalam sebuah skripsi, tesis, atau disertasi merupakan titik pangkal penelitian dalam rangka penulisan skripsi, tesis, atau disertasi itu. Asumsi dapat berupa teori, evidensi-evidensi dan dapat pula pemikiran peneliti sendiri. Apapun materinya, asumsi tersebut harus sudah merupakan sesuatu yang tidak dipersoalkan atau dibuktikan lagi kebenarnanya. Sekurang-kurangnya bagi masalah yang akan diteliti pada masa itu. Asumsi-asumsi dirumuskan sebagai landasan bagi hipotesis.
Asumsi ini harus dirumuskan dalam bentuk deklaratif. Jadi bukan kalmat bertanya, kalimat menyeluruh, kalimat menyarankan atau kalimat mengharapkan.
e. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah atau sub masalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka dan masih harus diuji kebenaannya. Melalui penelitian ilmiah, hipotesis akan dinyatakan ditolak atau diterima.
Hipotesis ini harus dibuat dalam setiap penelitian yang bersifat analitis. Untuk penelitian yang bersifat deskriptif, yang bermaksud mendeskripsian masalah yang diteliti, hipotesis idak perlu dibuat, oeh karena memang tidak pada tempatnya.
Hipotesis penelitian harus dirumusan dalam kalimat afirmatif. Hipotesis tidak boleh dirumuskan dalam kalimat bertanya, kalimat menyeluruh, kalimat menyarankan, atu kalimat mengharapkan.
f. Metode Penelitin
Metode penelitian yan disajikan dalam Bab Pendahuluan bersifat garis besar, sedangkan rinciannya dikemukakan pda Bab III. Kedalam metode penelitian ini dimasukan teknik atau teknik-teknik pengumpulan data, dalam hal ini, dapat disebut metode penelitian historis, deskriptif, inferensial, atau ksperimental. Sedangkan dalam hal teknik pengumpulan data dapat disebut teknik angket, wawancara, observasi parsitipatif, obserpvasi non-partisipatif, atau tes. Jika dipandang perlu dapat pula dimasukan pendekatan sosiologis, pendekatn edukatif, dan sebagainya. Ke dalam bab ini jug dimasukan proes pengembangan instrumen penelitian, bila ada instrumen yang secara khusus digunakan untuk mengumpulkan data.
g. Lokasi dan Sampel Penelitian
Disampin menyebutkan lokasi dan sampel penelitian pada bagian ini juga harus dsebutka alasan mengapa penelitian itu dilakukan di tempat itu dan dengan subyek penelitian itu. Alasan ini akan menjadi kuat apabila dikaitkan dengan rmusan masalah, latar belakang, dan tujuan penelitian, serta teknik analisis data.
11. Bab II Kajian Putaka / Kerangka Teoritis
Kajian pustaka sangat penting dalam suatu karya ilmiah, karena melalui kajian pustaka ditunjukan kedudukan suatu penelitian di tengah perkembangan ilmu dalam bidang yang diteliti. Kajian pustaka harus memuat hal-hal berikut ini:
(a) Apakah teori-teori utama dan teori-teori turunannya dalam bidang yang dikaji,
(b) Apa yang telah dilakukan oleh orang lain atau peneliti lain dalam bidang yang diteliti dan bagaimana mereka melakukannya (prosedur, subyek),
(c) Apa yang teah diketahui (berdasarkan hasil-hasil penelitian) dalam bidang yang diteliti,
(d) Setelah peneliti melakukan kajian secara komprehensif, maka dapatlah diketahui masalah apa yang masih perlu diteliti sehingga jelas kedudukan penelitian ini ditengah peelitian-penelitian sejenis sebelumnya.
Dalam prakteknya, judul Bab II disesuaikan dengan masalahnya, tetapi dapat juga diberi judul KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN TEORITIK, atau KAJIAN TEORITIK karena isinya telah tergambar dalam judul penelitian. Bila dikehendaki, kajian pustaa dapat dituangkan dalam dua bab, masing-masing mengemukakan tentang teori-teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu ya relevan, dan bab lainnya menjelaskan secara rinci teori yang dgunakan dalam penelitian in.
12. Bab III Metode Penelitian
Bab ini merupakan pnjabaran lebih rinci tentang metode penelitian yang secar garis besar telah disinggung pada Bab I. Pembatasan istilah yang ada pada judul dan variabel yang diteliti dalam penelitian juga dijelaskan dalam Bab ini. Smua prosedur dan tahapan-tahapan peneltian mulai persiapan hingga penelitian berakhir dijelaskan dalam Bab ini. Di samping itu, dilaporkan juga tentang instrumen yang digunakan beserta proses pengembangan dan uji validitas dan relibilitasnya. Sangat penting untuk dijelaskan mengapa suatu teknik atau prosedur / metode dipilih oleh peneliti.
13. Bab IV Pembahasan Hasil-Hasil Penelitian
Dalam bab ini dilaporkan hail-hasil penelitian. Penyajian mengikuti butir-butir tujuan, pertanyaan, ata hipotesis penelitian. Penyajian hasil penelitian dikuti oleh pembahasan. Dalam pembahsan ini diperlukan sikap ilmiah peneliti, yakni sikap bersedia dan terbua untuk dikritik, sikap bersedia dan terbuka mengemukakan sebab-sebab keanehan hasil penelitiannya jika hal itu memang terjadi. Sebaliknya juga sikap tidak segan-segan mengemuakan hasil-hasil penelitiannya tu secara apa adanya tanpa meninggalkan tata krama ilmiah dan tata krama pergaulan.
Dalam bab ini dapat pula disajikan rangkuman secara ringkas dan terpadu sejak dari persiapan sehingga penelitian berakhir. Dikatakan ringkas dan terpadu oleh karena penulisan ranguman ini tidak harus secara berurutan dari awal hingga akhir, akan tetapi semua komponennya telah diapukan menjadi sau kesatuan yang utuh dan dituangkan ke dalam satu urayan yang padat. Oleh sebab itu, rumusan-rumusannya tidak perlu sama, bahkan sebaiknya tidak sama, dengan rumusan-rumusan yang digunakan sebelumnya.
14. BAB V Kesimpulan dan implikasi / Rekomendasi
Dalam bab ini disajikan penafsiran / pemaknaan penelitian secara terpadu terhadap semua hasil penelitian yang telah diperolehnya. Karena sudah ada penafsiran, maka kesimpulan akan berbeda dengan rangkuman. Dalam penulisan kesimpulan dapat ditempuh salah satu cara dari dua cara berikut: (a) dengan cara butir demi butir, atau (b) dengan cara esei padat. Untuk karya tulis ilmiah seperti skrpsi, terutama untuk tesis dan disertas makna pnulisan kesimpulan dengan cara esei padat lebih baik dari pada dengan cara butir demi butir
Implikasi atau rekomendasi yang ditulis setelah kesimpulan dapat ditunjukan kepada para pembuat kebijaan, kepada para pengguna hasil penelitian yang bersangkutan dan kepada peneliti berikutnya ang berminat untuk melakukan penelitian selanjutnya.
15. Daftar Pustaka
Daftar pustaka memuat semua sumber tertulis (buku, artikel jurnal, dokumen resmi, atau sumber-sumber lain dari internet) atau tercetak (misalnya CD, Video, film, atau kaset) yang pernah dikutip atau digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Semua sumber tertulis atau tercetak yang tercantum dalam uraian harus dicantumkan dalam daftar pustaka. Dipihak lain, sumber-sumber yang tidak pernah digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah tersebut atau tidak dikutip, tidak perlu dicantumkan dalam daftar pustaka, walaupun pernah dibaca oleh peneliti.
Cara penulisan daftar pustaka berurutan secara alfabetis tanpa nomor urut. Sumber tertulis / tercetak yang memakan tempat lebih dari satu baris, ditulis dengan jark antara bars satu spasi, sedangkan jarak antara sumber-sumber tertulis yang saling berurutan adalah dua spasi.
16. Lampiran-lampiran
Lampiran-lampiran beisi semua dokumen yang digunakan dalam penelitian dan penulisan hasil-hasilnya menjadi satu karya tulis ilmiah. Setiap lampiran diber nomor urut sesuai dengan urutan penggunaannya. Di samping diberi nomor urut lampiran ini juga diberi Judul Lampiran. Nomor urut lampiran akan memudahkan pembaca untuk mengaitkannya dengan bab terkait. Apabila nomor urut lampiran terssebut terdiri atas dua angka Hindu-Arab dengan diselang satu tanda penghubung dimana angka depan menyatakan nomor urut bab yang bersangkutan dan angka belakang menyatakan nomor urut lampiran. Misalnya, lampiran 1.2 artinya lampiran 2 dari Bab 1.
17. Riwayat Hidup Penulis
Riwayat hidup dibuat secara padat dan hanya menyampaikan hal-hal yang relevan dengan kegiatan ilmiah, tidak semua informasi tentang yang brsangkutan. Cakupannya adalah: nama lengkap, tempat dan tanggal lahr, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan dan jabatan (bila telah bekerja), prestasi-prestasi yang pernah dicapai, dan karya ilmiah/publikasi yang telah dihasilkan atu diterbitka (untuk S2 dan S3). Riwayat hidup dibuat dengan gaya butir perbutir dapat pula dengan gaya esai padat. Dalam skripsi, tesis, atau disertasi, gaya yang kedua lebih tepat daripada gaya yang pertama.

Demikianlah artikel singkat tentang “Sistematika Penulisan KTI”. Semoga dapat membantu kita melahirkan karya-karya besar penelitian. selamat berkarya!

Sumber: diolah dari berbagai sumber.

BAGAIMANA MENULIS KUTIPAN DAN CATATAN KAKI?

BAGAIMANA MENULIS KUTIPAN DAN CATATAN KAKI?
Hari Wibowo, S.S., M.Pd.

Sajian berikut mengupas bagaimana menulis kutipan dan catatan kaki, dan lengkap dengan cara menulis kutipan dan catatan kaki, beserta contohnya. Dalam penulisan-penulisan ilmiah, baik penulisan artikel-artikel ilmiah, karya-karya tulis, maupun penulisan skripsi dan disertasi, perlu adanya kutipan-kutipan untuk menegaskan isi uraian.
Kutipan
Kutipan adalah pinjaman pendapat dari seseorang pengarang, atau ucapan seseorang yang terkenal, baik yang terdapat dalam buku-buku maupun majalah-majalah. Walaupun kutipan atas pendapat seseorang ahli itu perkenankan tidak berarti bahwa sebuah tulisan seluruhnya dapat terdiri dari kutipan-kutipan. Penulis harus bisa menahan dirinya untuk tidak terlalu banyak mempergunakan kutipan supaya karangannya jangan dianggap sebagai suatu himpunan berbagai macam pendapat. Kutipan-kutipan berfungsi sebagai bahan bukti untuk menunjang pendapatnya itu.
Jenis-jenis Kutipan
Menurut jenisnya, kutipan dapat dibedakan atas kutipan langsung dan kutipan tak langsung. Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil secara lengkap kata demi kata, kalimat demi kalimat dari sebuah teks asli. Sebaliknya, kutipan tak langsung adalah pinjaman pendapat seseorang pengarang atau tokoh terkenal berupa inti sari dari pendapat tersebut.
Penampilan kutipan, sebagai pertanggungjawaban moral penulis dalam hubungannya dengan kelazimannya dalam karang mengarang, mengikuti ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
Jika nama pengarang ditulis sebelum bunyi kutipan, ketentuannya sebagai berikut. Buatlah dahulu pengantar kalimat yang sesuai dengan keperluan, kemudian tulislah nama akhir pengarang, berikutnya cantumkan tahun terbit, titik dua, dan nomor halaman di dalam kurung, baru kutipan ditampilkan, baik dengan kalimat langsung maupun dengan kalimat tidak langsung.
Contoh :
Dalam hal pengasapan ini, Suhadi (1952:34) mengatakan, pengasapan ikan dengan menaikkan suhu semaksimal mungkin mendapatkan ikan….
Jika nama pengarang dituliskan sesudah bunyi kutipan, ketentuannya sebagai berikut. Buatlah dulu pengantar kalimat yang sesuai dengan keperluan, kemudian tulislah nama akhir pengarang, berikutnya cantumkan tahun terbit, titik dua, dan nomor halaman di dalam kurung, dan akhirnya diberi titik.
Contoh :
Lebih tegas lagi, dikatakan bahwa amoniak dikirimkan secara kontinu untuk memenuhi keperluan PT. Petro Kimia Gresik dan diekspor ke Filipina, India, Thailand, Korea Selatan, dan Jepang (Subandi, 1987:40).

Untuk acuan dengan dua pengarang, cantumkanlah nama akhir kedua pengarang ; lebih dari dua orang pengarang, gunakanlah singkatan dkk (dan kawan-kawan) sesudah nama akhir pengarang yang diacu. Dalam hal penempatan pengarang, ketentuan (a) dan (b) berlaku juga untuk (c).
Contoh :
Kuesioner adalah suatu daftar yang berisi rangkaian pertanyaan tentang suatu hal (Sumardjan dan Koentjaraningrat, 1997:63).
Jika ada beberapa karya terbitan tahun yang sama dari seorang pengarang, gunakanlah huruf a,b,c, dan seterusnya di belakang tahun terbit di dalam kurung sebagai pembela.
Contoh :
Selanjutnya, Supardi (1980:72) berpendapat….
Jika beberapa pengarang yang diacu bersama, nama-nama pengarang dan tahun terbit buku itu ditulis dalam satu kurung. Tanda titik koma (;) memisahkan nama satu pengarang dengan pengarang lainnya.
Contoh :
…. dalam pembangunan ekonomi (Rahman, 1997:8;Anwar, 1979:10; Wirawan, 1989:12).
Jika pustaka acuan tidak mempunyai tahun terbit, tuliskan tanpa tahun di dalam kurung sesudah penyebutan nama pengarang.
Contoh :
…. dana moneter internasional (Wardhana, tanpa tahun: 117).
Cara Menulis Kutipan
Lalu bagaimana cara menulis kutipan yang benar? berikut penjelasannya:
a. Kutipan Langsung
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengutipan secara langsung.
Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris ditempatkan dalam teks dapat diapit tanda petik dengan jarak yang sama dengan baris dalam teks, yaitu dua spasi.
Contoh :
Bachtiar (1978:76) berpendapat, “Para anggota birokrasi itu sesungguhnya diatur oleh lebih dari satu sistem budaya”.
Kutipan langsung yang terdiri dari lima baris atau lebih ditempatkan di bawah baris terakhir teks yang mendahuluinya, dengan jarak 2,5 spasi. Kutipan itu ditik tanpa tanda petik dengan jarak satu spasi dan menjorok masuk sekitar lima ketukan, baik di sebelah kiri maupun di sebelah kanan.
Contoh :
Selanjutnya, Suhono (1985:43) menyebutkan jenis dan ciri-ciri ular sebagai berikut :
Di pulau Jawa dikenal 110 jenis ular, baik yang berbisa maupun yang tidak berbisa. Ular berbisa dengan taring di muka berjumlah 30 jenis, 18 jenis diantaranya terdiri atas ular-ular laut. Hingga kini didapatkan 12 ular berbisa yang hidup di darat….
Jika sumber acuan dalam bahasa asing, sebaiknya bagian yang dikutip diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia sebagai kutipan tak langsung. Jika terpaksa harus dikutip langsung, pernyataan dalam bahasa asing itu digarisbawahi atau diketik dengan huruf miring jika menggunakan komputer.
Contoh :
Pengaruh sastra dalam kehidupan manusia seperti terlihat dalam pernyataan William (1977:2) “The analogy between woman and the earth as sources of life has always inspired the myth and poem of men….”
b. Kutipan tidak langsung
Dalam kutipan tak langsung inti atau sari pendapat itu yang dikemukakan. Sebab itu kutipan boleh menggunakan tanda kutip. Kutipan itu diintegrasikan dengan teks jarak antara baris dan dua spasi.
Dalam Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan disebutkan bahwa “unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya”[1]
1 Dendy Sugiono (Penangg.Jwb). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2004), hlm.23
Contoh Kutipan disertai dengan catatan kaki
Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Ragam bahasa standar memiliki sifat kemnatapan dinamis, yang berupakaidah dan aturan yang tetap. Baku atau standar tidak bisa berubah setiap saat. Kaidah pembentukan kata yang menerbitkan perasaan dan perumusan dengan taat asas harus menghasilkan bentuk perajin dan perusak dan bukan pengrajin atau pengrusak.[2]
Ketaatasasan ragam baku ini dalam penulisan ilmiah perlu dilaksanakan secara konsisten sehingga menghasilkan ekspresi pemikiran yang objektif
2 Anton Moeliono (ed). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. (Jakarta : Balai Pustaka, 1988). hlm.13
Catatan Kaki
Dalam karangan ilmiah biasanya diperlukan cara yang lazim disebut catatan kaki. Catatan kaki merupakan keterangan-keterangan atas teks karangan yang bersangkutan. Catatn ini digunakan untuk (a) menunjang fakta, konsep, dan gagasn atau memberikan informasi tentang sumber data, gagasan, dan lain-lain yang relevan dan (b) untuk memberikan penjelasan tambahan tentang suatu masalah yang dikemukakan dalam teks atau untuk menjelaskan definisi istilah secara lebih cermat.
Bagian yang akan diterangkan itu diberikan nomor 1,2,3 dan seterusnya di belakangnya. Nomor itu dinaikkan setengah spasi tanpa jarak ketukan.
Catatan kaki diletakkan di bagian bawah halaman dengan dibatasi garis sepanjang sepuluh pukulan dari pias kiri, jarak dari garis pembatas ke catatan kaki dua spasi. Nomor catatan kaki dinaikkan setengah spasi di depan penjelasannya dan diberi kurung tutup. Penomoran catatan kaki diurutkan dalam setiap bab. Jika berganti bab, penomoran catatan kaki dimulai dari satu lagi.
Contoh :
…. Wajib belajar bagi usia sekolah[1]. sebagai tindak lanjut, mulai dikumpulkan data anak-anak asuh[2]. yang perlu diberi bantuan biaya pendidikannya.
1) Pidato Presiden Soeharto dalam Peringatan Hardiknas 1984.
2) Anak usia sekolah yang tidak mampu membiayai pendidikannya.
Selain catatan kaki, ada juga keterangan tambahan yang ditempatkan pada akhir bab, yakni pada halaman tersendiri yang berjudul “CATATAN”.
Penomoran catatan di dalam teks serta penulisan penomoran catatan di dalam halaman “CATATAN” sama dengan penulisan catatan kaki di atas.
Contoh :
Di Filipina pada tahun 1936 didirikan Lembaga Bahasa Nasional (Suriang Wikang Pambarisa Aspillera, 1970 : Yabes, 1970 ; Surabaya 1974).
Pada halaman “CATATAN” ditulis sebagai berikut :
2) Badan ini pada saat pendiriannya bernama Nasional Language Insitute, sedangkan terjemahan Inggris yang resmi sekarang adalah Insitute of National Language.
Cara Penulisan Catatan Kaki
Bagaimana cara menulis catatan kaki, berikut hal yang perlu diperhatikan:
a. Catatan kaki dipisahkan tiga spasi dari naskah halaman yang sama.
b. Antar catatan kaki dipisahkan dengan satu spasi
c. Catatan kaki lebih dari dua baris diketik dengan satu spasi
d. Catatan kaki diketik sejajar dengan margin
e. Catatan kaki jenis karangan ilmiah, diberi nomor urut mulai dari nomor satu untuk catatan kaki pertama pada awal bab berlanjut hingga akhir bab. Pada setiap awal bab baru berikutnya catatan kaki dimulai dari nomor satu. Laporan atau karangan tanpa bab, catatan kaki ditulis pada akhir karangan.
f. Nomor urut angka arab dan tidak diberi tanda apapun
g. Nomor urut ditulis lebih kecil dari huruf lainnya, misalnya font 10 pt.
Catatan kaki yang merupakan rujukan atau data pustaka ditulis berdasarkan cara berikut ini :
Nama pengarang tanpa di balik urutannya atau sama dengan nama pengarang yang tertulis pada buku diikuti koma.
Jika nama dalam tertulis lengkap disertai gelar akademis, catatan kaki mencantumkan gelar tersebut.
Judul karangan dicetak miring, tidak diikuti koma
Nama penerbit dan angka tahun diapit tanda kurung diikuti koma
Nomor halaman dapat disingkat hlm atau h. Angka nomor halaman diakhiri titik (.).
Contoh penulisan :
1 William N.Dunn, Analisis Kebijaksanaan Publik, terj. Muhajir Darwin, (Yogyakarta: Hanindita, 2001), 20-32
2 Araham H.Maslow, Motivasi dan Kepribadian 2, terj. Nurul Imam, (Jakarta: Pustaka Binaman Presindo, 1994), 1-40
3 Dr. Albert Wijaya, “Pembangunan Pemukiman bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Ibukota,|” dalam Prof. Ir. Eko Budiharjo, MSc.(Ed), Sejumlah Masalah Pemukiman Kota, (Bandung, Alumni, 1992), 121 – 124.
4 Drs. Cosmas Batubara, “Kebijaksanaan Pembangunan Nasional: Sebuah Sumbang Saran,” dalam Prof. Ir. Eko Budiharjo, MSc(Ed), Sejumlah Masalah Pemukiman Kota, (Bandung: Alumni, 1992) 91 – 103.

Ibid, Op. Cit, dan Loc. Cit
Singkatan ini digunakan untuk memendekkan penulisan informasi pustaka dalam catatan kaki. Penulisan harus memperhatikan persyaratan baku yang sudah lazim.
Ibid
Ibid singkatan dari ibidum berarti ditempat yang sama dengan di atasnya.
Ibid ditulis di bawah catatan kaki yang mendahuluinya
Ibid tidak dipakai apabila telah ada catatan kaki lain yang menyelinginya.
Ibid diketik atau ditulis dengan huruf kapital pada awal kata, dicetak miring, dan diakhiri titik.
Apabila referensi berikutnya berasal dari jilid atau halaman lain , urutan penulisan: Ibid, koma, jilid, halaman.
Contoh :
1 Peg C.Neuhauser, Legenda Manfaatnya Bagi Perusahaan, terj. Teguh Rahardja, (Jakarta: Pustaka Binaman Presindo, 1994), 13 – 34.
2 Ibid.
3 Ibid., 53 – 62
4 Hernowo, Mengikat Makna, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 109 – 130.
5 Ibid., 133 – 145
6 Jeff Madura, Pengantar Bisnis, terj. Sayorini W.R. Salib, Ph.D. (Jakarta, Salemba Empat), 2 – 11
7 Ibid.
8 Ibid. 12

b.Op. Cit (Opere Citato)
(1) Op. Cit. singkatan kata Opere Citato berarti dalam karya yang disebut
(2) Merujuk sumber yang telah disebutkan dan diselingi dengan sumber lain
(3) Ditulis dengan huruf capital pada awal suku kata, dicetak miring, setiap suku diikuti titik
(4) Urutan penulisan, nama pengarang, nama panggilan nama famili, Op. Cit. nama buku, halaman.

Contoh:
Satipto Rahardjo, Hukum Masyarakat dan Pembangunan (Bandung :Alumni, 1976), hlm. 11
Daniel Golemans, Emotional Inteligence (Jakarta :Garamedia, 2001), hlm. 161.
Bobby Deporter & Mike Hernacki. Quantum Business, terj.Basyarah Nasution. (Bandung : Kaifa, 2000), hlm. 63-87.
Rahardjo. Op.Cit., 125
Goleman. Op. Cit.
Deporter & Mike Hernacki. Op.Cit. 203-238
c. Loc.Cit. (Loco Citato)
Loc.Cit singkatan Loco Citato, berarti di tempat yang sudah disebutkan
Merujuk sumber data yang sama berupa buku kumpulan esai, jurnal, ensiklopedi, atau majalah; dan telah diselingi sumber lain
Kutipan bersumber pada halaman yang sama kata loc.cit. tidak diikuti nomor halaman.
Jika halaman berbeda kata loc.cit diikuti nomor halaman, dan

Menyebutkan nama keluarga pengarang
Contoh :
1 Sarwiji Suwandi, “Peran Guru dalam Meningkatkan Kemahiran Berbahasa Indonesia Siswa Berdasarkan Kurikkulum Berbasis Kompetensi,” Kongres Bahasa Indonesia VIII, ( Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, 2003), 1 – 15.
2 Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 2 terj. Nurum Imm, (Jakarta: Pustaka Binaman Presindo, 1994), 1 – 40.
3 Suwandi, Loc.cit.
4 Adnan Buyung Nasution, S.H., “Beberpa Aspek Hukum dalam Masalah Pertanahan dan Pemukiman di Kota Besar”, dalam Prof. Ir. Eko Budiharjo, MSc.(Ed), Sejumlah Masalah Pemukiman Kota, (Bandung: Alumni, 1992),
5 Suwandi, Loc.Cit.
6 Nasution, Loc.Cit.

Contoh Penulisan ibid, op.cit, dan loc.cit dalam teks:
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, mahasiswa perlu memperhatikan kompetensi dirinya, yang mencakup pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak berdasarkan kompetensi yang berkarakteristik: (1) kompetensi dinamis, (2) kompetensi yang berkembang dari waktu ke waktu, (3) kompetensi ketrampilan dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk profresinya, dan (4) kompetensi yang terukur target pencapaiannya. 1Jika pengembangan kompetensi ini difokuskan pada bidang studi mahasiswa dan berlangsung baik dan terukur dapat dipastikan bahwa salah satu atau beberapa kecerdasan sari tujuh kecerdasan Howard Gardner (kecerdasan linguistic, kecerdasan logis matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kenistetik, kecerdasan intrapribadi, kecerdasan spiritual)2 yang diperkaya dengan berbagai jenis kecerdasan lainnya akan dapat menghasilkan pemikiran inovatif; yaitu keinovatifan kreatif yang spesifik, inovasi yang berkarakteristik, sosialekonomis, berkepribadian, berprilaku komunikatif, berkeuntungan relative, kompleksitas, menghasilkan informasi dan kreatifitas berkelanjutan, dan kreatifitas baru yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.3

1 Sarwiji Suwandi, “Peran Guru dalam Meningkatkan Kemahiran Berbahasa Indonesia Siswa Berdasarkan Kurikkulum Berbasis Kompetensi,” Kongres Bahasa Indonesia VIII, ( Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, 2003), 1 – 15.
1 Sarwiji Suwandi, ”Peran Guru
2 Daniel Goleman, Emotional Intelligence, (Jakarta: Gramedia, 20010, h. 43 – 156
3 Dahmir Dahlan, “Aktualisasi Diri Dosen” Jurnal Ilmu. Pendidikan Parameter Universitas Negeri Jakarta No.24 Th. XXII, Desember 2005.
Demikian sajian artikel “Bagaimana menulis kutipan dan catatan kaki?” sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan penulisan Karya Ilmiah. Semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA:
Arifin, E. Zaenal. 2000. Dasar-dasar penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta : Gramedia.
Hs, Widjon. 2007. Bahasa Indonesia. Jakarta : Grasindo.
Keraf. Gorys 1993. Komposisi. Ende : Nusa Indah.

PERMENDIKBUD SEPUTAR KURIKULUM 2013

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan Kurikulum 2013 secara terbatas dan bertahap pada tahun pelajaran 2013-2014. Penerapan Kurikulum 2013 ini diiringi dengan terbitknya sejumlah peraturan menteri yang menjadi rujukan Kurikulum 2013, diantaranya adalah peraturan menteri sbb:

1. Permendikbud No.54 thn 2013 ttg Standar Kompetensi Lulusan
dan lampirannya
2. Permendikbud No.64 thn 2013 ttg Standar Isi
3. Permendikbud No.65 thn 2013 ttg Standar Proses dan lampirannya
4. Permendikbud No.66 thn 2014 ttg Standar Penilaian dan lampirannya
5. Permendikbud No.67 dan lampirannya, 68 dan lampirannya, 69 dan lampirannya, 70 thn 2014 ttg Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum mulai jenjang SD/MI sampai jenjang SLTA / SMK
6. Permendikbud No.71 thn 2014 ttg Buku Teks Pelajaran
(lihat tautan ini: Download Permendikbud tentang Kurikulum 2013)

Selanjutnya, untuk kepentingan pelaksanaan Kurikulum 2013 Kemdikbud juga menerbitkan Permendikbud No. 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013. Peraturan ini melengkapi peraturan implementasi Kurikulum 2013.

Pada tahun pelajaran 2014-2015, secara resmi pemerintah memberlakukan Kurikulum 2013 dalam skala nasional. Pemberlakuan Kurikulum 2013 secara nasional ini, pada bulan Juli 2014 pemerintah melalui Kemendikbud menerbitkan beberapa peraturan guna melengkapi peraturan yang sudah ada, diantaranya:

1. Permendikbud No.57 thn 2014 ttg Kurikulum SD
2. Permendikbud No.58 thn 2014 ttg Kurikulum SMP
3. Permendikbud No.59 thn 2014 ttg Kurikulum SMA
4. Permendikbud No.60 thn 2014 ttg Kurikulum SMK
5. Permendikbud No.61 thn 2014 ttg Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
6. Permendikbud No.62 thn 2014 ttg Kegiatan Ekstra Kurikuler
7. Permendikbud No.63 thn 2014 ttg Kepramukaan
8. Permendikbud No.64 thn 2014 ttg Peminatan

(lihat tautan ini: Permendikbud tentang Kurikulum SMA, KTSP, Ekstra Kurikuler, Pramuka, dan Peminatan)

Sumber: Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)

PERMENDIKBUD TERBARU TAHUN 2014

BERIKUT INI BEBERAPA PERMENDIKBUD TERBARU YANG BARU DISAHKAN BLN OKT 2014:
SILAKAN KLIK TAUTANNYA:
1. Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
Lampiran Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
2. Permendikbud No. 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
Lampiran Permendikbud No. 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
3. Permendikbud No. 105 Tahun 2014 tentang Pendampingan Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
Lampiran Permendikbud No. 105 Tahun 2014 tentang Pendampingan Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
4. Permendikbud No. 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
Lampiran Permendikbud No. 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
5. Permendikbud No. 158 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
6. Permendikbud No. 159 Tahun 2014 tentang Evaluasi Kurikulum.

BILA INGIN UNDUH SILAKAN KLIK TAUTANNYA

KUMPULAN PUISI PENYAIR TERKENAL

KUMPULAN PUISI PENYAIR TERKENAL
Yang Terampas dan Yang Putus- Chairil Anwar

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949

Senja Di Pelabuhan Kecil- Chairil Anwar
Buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946

Sajak bulan purnama- WS Rendra

Bulan terbit dari lautan.
Rambutnya yang tergerai ia kibaskan.
Dan menjelang malam,
wajahnya yang bundar,
menyinari gubug-gubug kaum gelandangan
kota Jakarta.
Langit sangat cerah.
Para pencuri bermain gitar.
dan kaum pelacur naik penghasilannya.
Tahanan- WS Rendra
Atas ranjang batu
tubuhnya panjang
bukit barisan tanpa bulan
kabur dan liat
dengan mata sepikan terali
Di lorong-lorong
jantung matanya
para pemuda bertangan merah
serdadu-serdadu Belanda rebah
Di mulutnya menetes

Malu (aku) Jadi Orang Indonesia- Taufiq Ismail
I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

LEBIH LENGKAP LAGI SILAKAN KLIK DI SINI!

TIPS MENYUSUN RPP

TIPS PENYUSUNAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Hari Wibowo

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus. Setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP mata pelajaran yang diampunya. Pengembangan RPP dapat dilakukan pada setiap awal semester atau awal tahun pelajaran. Hal ini bertujuan agar RPP telah tersedia terlebih dahulu setiap awal pelaksanaan pembelajaran. Pengembangan RPP dapat dilakukan secara mandiri atau secara berkelompok, misalnya dengan memanfaatkan forum guru Kelompok Kerja Guru dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (KKG/MGMP).
Pengembangan RPP dalam forum KKG/MGMP difasilitasi dan disupervisi oleh kepala sekolah atau guru senior yang ditunjuk oleh kepala sekolah. Pengembangan RPP yang dilakukan oleh guru secara berkelompok melalui MGMP antarsekolah atau antarwilayah dikoordinasikan dan disupervisi oleh pengawas atau dinas pendidikan. Berikut ini akan disajikan beberapa tips penyusunan RPP.
Beberapa Tips Penyusunan RPP adalah sebagai berikut:
Pertama, Pahami Prinsip-Prinsip Pengembangan RPP
Kedua, Mencermati Pemetaan KI, KD, dan Indikator sebagai berikut.
Pemetaan KI, KD, dan Indikator merupakan pemetaan yang disesuaikan dengan beberapa jenis teks yang dipelajari.
Ketiga, Menggunakan Format Komponen dan Sistematika RPP sesuai Permendikbud 81A tahun 2013. 
Keempat, Mengikuti Langkah-Langkah Pengembangan RPP sebagai berikut.
a. Mengkaji Silabus
b. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran
c. Menentukan Tujuan
d. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
e. Penjabaran Jenis Penilaian
f. Menentukan Alokasi Waktu
g. Menentukan Sumber Belajar

Sumber:
Kemendikbud. 2013. Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses.
————–. 2013. Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013.
————–. 2013. Buku Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Mapel Bahasa Indonesia.

untuk lebih lengkap silakan klik di sini!

KONSEP PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN

KONSEP PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN
MATA PELAJARAN PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP
Hari Wibowo,S.S., M.Pd.
(Artikel ini telah diterbitkan Majalah Review LPMP Kalimantan Barat)
PENGANTAR

Angin perubahan kurikulum 2013 terus berhembus menggantikan kurikulum berbasis kompetensi, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Seringnya terjadi pergantian dan atau perubahan kurikulum pada hakikatnya merupakan reaksi pemerintah akibat terjadinya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi amat cepat sehingga terjadi pergeseran kebutuhan dan tuntutan di masyarakat terhadap dunia pendidikan. Kurikulum 2013 menempatkan penilaian menempati posisi penting. Dalam hal ini penilaian yang tepat mengiringi penerapan kurikulum 2013 dengan pendekatan scientifik adalah penilaian autentik.
Penilaian autentik menekankan pengukuran hasil pembelajaran yang berupa kompetensi peserta didik untuk melakukan sesuatu, doing something, sesuai dengan mata pelajaran dan kompetensi yang dibelajarkan. Tekanan capaian kompetensi bukan pada pengetahuan yang dikuasai peserta didik, melainkan pada kemampuan peserta didik untuk mengamati, menanyakan, mencoba, mengolah, mnyajikan, menalar, dan mencipta. yang merupakan cerminan esensi pengetahuan dan kemampuan yang telah dikuasainya tersebut. Selain itu, pendemonstrasian kompetensi tersebut tidak semata-mata demi pengetahuan itu sendiri, melainkan harus sekaligus mencerminkan kebutuhan nyata dalam kehidupan sehari-hari. (Nurgiyantoro, 2006)
Dalam penilaian autentik peserta didik diukur kompetensinya dengan menampilkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang kesemuanya itu harus terintegrasi. Dalam penilaian autentik peserta didik harus memiliki tiga aspek penilaian (1) sikap, “Mengapa dia tahu?” (2) Pengetahuan, “Dia mengetahui apa?” (3) Keterampilan, “Bagaimana dia tahu?”. Peserta didik dibekali sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terintegrasi sehingga mampu menjadi insan yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif.
Secara umum tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah (SMP dan SMA) adalah capaian kemampuan berkomunikasi lewat saluran keempat kemampuan berbahasa, maka evaluasi yang dilakukan juga haruslah mengukur kemampuan berbahasa itu yang dalam kaitan ini adalah penilaian otentik. Penilaian autentik menekankan penilaian pada kemampuan berunjuk kerja bahasa (kompetensi berbahasa, kompetensi komunikatif) sebagaimana halnya dalam berkomunikasi sehari-hari untuk berbagai keperluan dan bukan sekadar mengungkap pengetahuan bahasa (kompetensi linguistik). Karena penilaian autentik itu sendiri belum “terkenal” dan belum banyak dikenal oleh para guru, dalam arti belum banyak dipergunakan untuk mengukur hasil pembelajaran, ia perlu dikenalkan. Hal itu dimaksudkan agar para guru mampu melaksanakan penilaian model penilaian autentik dengan benar sebagai salah satu asesmen hasil pembelajaran di kelas, khususnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
Untuk itu, pengembangan model penilaian autentik adalah sebuah keharusan demi peningkatan kualitas pembelajaran dan sekaligus memaksimalkan pelaksanaan kurikulum 2013 serta capaian hasil pembelajaran bahasa Indonesia. Namun, untuk memaksimalkan hasil dan kemanfaatannya sebelumnya perlu dilakukan survei secara faktual dan mendalam terhadap kondisi pelaksanaan penilaian yang dilakukan guru dan kemudian baru dikembangkan sebuah model penilaian hasil pembelajaran bahasa sebagaimana fungsinya sebagai sarana berkomunikasi.
Slanjutnya klik di sini!